Ibu kota

kenapa kau tak secantik dulu

kini wajahmu kusut termake up asap kendraan

rambutmu kumal semrawut rambu jalanan

jari lentikmu menjulang langit bercakaran

Ibu kota

kenapa kau sekarang gampang marah

cepat sekali kau mengasap

menghanguskan semua keliaran istana

apa karena aliran darahmu yang tersendat

disetiap pagi yang selalu padat

Ibu kota,

kenapa bunga dan kupu-kupu di taman menghilang

siapa yang sudah memetik mereka

hingga harus tercecer di pinggir jalan

berhamburan bila sirine berdendang

Ibu kota

siapa sebenarnya suamimu

yang telah menghamilimu

meninggalkan berjuta dilema

hingga kau sampai lupa memejamkan mata

Ibu kota

tunjukkan dimana kakimu

biar kubasuh dan kucium

agar ku bisa melihat surga

yang banyak orang katakan

yang bisa ditemui disetiap persimpangan

Ibu kota

oh Ibu kota

boleh dijadikan ibu siapa saja

Nang, duduk sini dipangku Ibu
ku ingin mengusap keringat di dahimu
sebelum ku kembali mengusap sepatu orang
demi masa depanmu

Nang, aku ajari kau cari mandi
agar kelak bisa memandikanku
saat ku tak bisa mengusap keringatmu lagi
saat ku harus tidur abadi

Nang, kau harus tau kenapa ku beri nama satria
bukan untuk sekedar bagus-bagusan
bukan untuk gampang dikenal orang
tapi jadikanlah dirimu seorang ksatria

yang bisa mencari arah bila ku mati
yang bisa hidup lebih layak
tak mengusap sepatu orang seperti aku

Nang, ditengah hingar bingar Ibu Kota
yang aku sendiri tak tahu kelaminnya
meskipun kita dianggap hina
janganlah sesekali kau tak trima
karena Tuhan sudah menggariskan hidup kita

Nang, satria anakku
lekaslah pakai seragammu
rajinlah menuntut ilmu
agar kelak kau bisa mengubah hidupmu
menebar kebaikan tak pandang bulu

** terinspirasi ketika saya melihat seorang ibu yang tinggal dikolong jembatan. Dengan tatapan penuh kasih sayang beliau memandikan anaknya yang masih balita.
dari sinilah kenapa saya gunakan nama tersebut dibelakang nama asli saya..

Kuseret mataku menuju kibar
janur kuning di ujung jalan
hening, diam tanpa aba-aba
detik dan kicau burung mengejekku
seiring lalu lalang lengking
biduan penyambut tamu

Kupaksa melangkah
dengan butir-butir air mata
ku tatap bening wajahmu
serasi busana pengantin
lengkap dia disampingmu

segala keluh dan retak
hati ini kucoba redam

aku lelaki tak mungkin merengek
meminta kau memutar kenangan
dulu tuk kembali
dalam pelukku

kini aku tegar
dari sisa-sisa tatapku

kutulis kata
kuhapus segala rasa
kucari lembar baru
kuhapus bayangmu
di sayap kupu-kupu

dengan jerit dari hati
kubiarkan penaku bicara
ku kenang kelam kisah ini
dan ku hanya diam
menatapmu di kursi pelaminan

kami ingin menjadi juni. yang selalu terlahir di tengah masehi.
kami takkan mengeluh meskipun sehari lebih muda dari adik kami juli.

meskipun kami harus menangis, meratapi kebahagiaan yang menjadi histeris. karena nilai kami yang terlalu tragis. pada selembar kertas yang penuh mistis

kami tetap ingin menjadi juni. walau tak mendapatkan berkah jual beli kursi, dari yang terdegradasi. kami tetap setia mengubah merah jadi biru, biru jadi abu-abu dan abu-abu menjadi guru. agar kami dikenang selalu

dan kami ingin menjelma juni. agar kami tak pernah kehabisan pangan. meskipun selama hidup kami selalu merindu hujan;

merindu kasih sayang

Ingat pertemuan kita
semalaman menatap dingin udara
kita hanyut dalam alunan
dendang kampas rem pesakitan

di sana aku rapi
menyusun rangkaian kata-
kata yang mulai menjamur
dimulut balita merengek
minta permen namun
tiada terbeli jua

kutatap hampa bungamu
harum menebar penolakan
pada aku yang kumbang
bulan mengambang
hingga pagi berkumandang

biarlah semuanya melumut
agar memahat batu menumpuk
entah sampai usiaku lapuk

ku ingin ikut menyelam
dalam dinginmu yang makin kelam

Halaman Berikutnya »