Saya begitu bangga sekaligus trehentak kaget ketika cerpen yang saya buat dimuat di majalah HORISON. Sebenarnya cerpen itu saya kirim untuk dimuat pada bulan Agustus 2006. Mungkin karena adanya faktor lain, bulan Agustus itu hanya foto saya dan kawan-kawan saja yang dimuat pada rublik kaki langit beserta beberapa puisi hasil karya teman-teman saya. Secara mengejutkan cerpen bertajuk “RAIN ON DECEMBER” ini dimuat persis pada bulan Desember. Entah disengaja atau tidak mungkin disesuaikan dengan bulan dan judulnya.
Tentunya keberhasilan seoarang murid tidak akan pernah luput dari jasa sang pendidik, dalam hal ini tentunya adalah guru. Memang betul, kacang tak lupa kulitnya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mengingat masa SMP saya dulu, sebenarnya dari sebelum masuk SMP saya sudah mengenal Pak Sawali. Kebetulan dulu rumah beliau tak jauh dari rumah saya. Hanya saja sewaktu diajar ketika masa SMP itulah saya mulai mengagumi beliau karena karya sastranya. Semula hanya iseng-iseng saja menulis cerpen dan puisi. Sampai ketika saya melihat Guru saya yang Ganteng ini dimuat di suatu surat kabar, emosi saya untuk terus berkarya mulai tumbuh. Sayang sewaktu SMP dulu kedekatan itu tidak saya manfaatkan untuk menggali ilmu sastra lebih dalam.
Ketika menginjak SMA lah saya mulai mencoba menembus Koran-koran lokal. Namun belum juga berhasil. Tidak jauh beda dengan masa SMP, ternyata guru Bahasa dan Sastra Indonesia saya adalah orang yang benar-benar berkompeten di bidangnya. Beliau adalah Ibu Yuniasih S.Pd yang merupakan duta guru berprestasi Jawa Tengah di tingkat Nasional. Satu lagi, Ibu Tri Nurhayati. Yang merupakan teman kuliah dari penyair nasional Moh. Wan Anwar. Dari sinilah saya mulai kembangkan teknik menulis karya sastra tingkat lanjut. Sampai suatu hari saya diusulkan untuk mengikuti seminar “SASTRAWAN BICARA SISWA BERTANYA” yang kebetulan pembicaranya adalah Taufik Ismail, Joni Aryadinata, Agus R Sarjono dan Moh Wan Anwar. Merupakan suatu kebanggaan bagi saya bias bercengkrama dengan para penyair tersebut yang tak lain adalah pengurus dari majalah HORISON. Dari sinilah saya mulai terdorong untuk mengirimkan naskah cerpen saya tersebut ke majalah HORISON. Tak diduga dan disangka, cerpen saya benar-benar dimuat. Saya hampir tak memepercayainya.
Sekali lagi keberhasilan saya tak pernah luput dari jasa seorang guru. Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih saya kepada guru sastra saya; Pak Sawali, Ibu Yuniasih, Ibu Tri Nurhayati serta kepada Pak Muslichin yang telah memberikan saya motivasi untuk terus berkarya. Terima kasih pula kepada para pembaca yang telah mengapresiasi karya sastra.
TERIMA KASIH GURU……….
9 Mei 2008 at 3:23 pm
kamu punya potensi untuk menjadi penulis hebat, farhan. saran saya, berlatihlah terus untuk menulis. kamu punya kekuatan untuk menulis cerpen. lakukan itu! rekam berbagai peristiwa kemanusiaan yang muncul di lingkungan sekitar. kamu juga bisa menggali berbagai pengalaman masa silam. tuangkan ke dalam genre cerpen. ketika yang rapi, lalu kirim ke koran. sudah saatnya kamu mencari dan memburu jatidiri kepenulisan lewat media cetak. jika sudah dimua, baru kamu publikasikan di blog ini. yups, salam kreatif!
15 Mei 2008 at 1:48 am
Selamat ya..
15 Mei 2008 at 10:26 am
benar sekali, guru adalah, seseorang yang kita berhutang budi karena ia banyak mengajari hal tentang hidup. Ada istilah dek Farhan, buku adalah guru yang bodoh, karena kita tidak lagi bisa bertanya, tapi hal itu tidak berlaku bagi guru yang bisa membing kita.
(maaf bila so so’an
)
PS : Pak Sawali memang ganteng dengan fotonya ntuh
17 Mei 2008 at 2:13 am
eh ini farhan yang kemarin ya? hehehehe…salam kenal lagi ah…
btw selamat cerpennya dimuat..
*cerpen saya kapan ya?*
17 Mei 2008 at 5:11 am
hihihi.. akhirnya kita ketemu yah.. keep writing bos..
18 Mei 2008 at 1:16 pm
Yup, berterimakasihlah dan terus berguru.