Sabtu pagi, aku pun bagun seperti biasanya. Namun yang berbeda untuk pagi ini adalh ku buka mataku untuk pertama kalinya di kota depok. Ya. di sebuah rumah mewah di kawasan kota Bojongede. Di sinilah aku menemukan sebuah nafas baru. Setelah kemarin ku habiskan waktuku untuk menghadiri peluncuran kumcer guru kesayanganku, Sawali Tuhusetya.

pagi ini rencanyanya kami (aku, Pak Sawali Tuhusetya dan Pak Maman S Mahayana) akan mengikuti Seminar nasional 55 tahun Taufik Ismail di Dunia Sastra. Di Perpustakaan nasional yang jaraknya luar biasa jauh dari tempat kami bermalam. Memang waktu menunjukkan pukul 08.15. masih pagi aku kira. Namun di luar sangkaan kami sudah terlambat untuk menempuh perjalanan. Selesainya membersihkan badan dan melukan persiapan perjalanan. kami melangkahkan kaki menuju jalan raya untuk menuju stasiun terkdekat. Dengan angkot nomor 5 kami tiba di stasiun Bojonggede. sialnya Kereta ekspress akan baru tiba pukul 09.30. sontak kami terkejut, karena acara akan dimulai pukul 09.30.

Tanpa pikir panjang kamipun akhirnya naik KRL biasa. Yang lebih membuat aku kaget luar biasa, ternyata KRL yang kami tumpangi tak beda dengan laju kerbau yang sedang membajak sawah. Sialnya lagi berdiri pula di dalam kereta (lebih mending angkutan di daerahku yang bisa duduk santai). pak Maman berulang kali menengok jam ditangannya yang sudah menuju pukul 08.45. Memang yang namanya keberuntungan tiba setiap saat. Di stasiun selanjutnya ternyata sudah ada kereta BOGOR EKSPRESS yang sedang mangkal nunggu penumpang. Sontak tanganku ditarik Pak Maman untuk pindah ke kereta tersebut. Tanpa pikir panjang akupun ikut menuju kereta tersebut. Pak Sawali juga sudah ada di depan. Di dalam kereta ekspress inilah kurasakan ada yang aneh.

“Lho Pak Kita kan belum punya tiket kereta ini?” seruku lirih pada pak Sawali

“Ya udah sana tanya masinis di mana beli tiketnya!” perintah Pak Maman

Aku masdih terdiam tak berkutik. Entah bingun atau karena aku yang katrok. Dengan sigap Pak Sawali keluar kereta mencari loket penjualan tiket. Namun sayangnya kereta akan segera berangkat dan belum tahu di mana loket tersebut.

“Ya sudahlah, nanti kita bayar saja saat berangkat” lontar Pak Maman

“Hei pak, nati kena denda lho. Tiga kali lipat” sahut slah seorang penumpang

“Farhan saja sana cari loket” ujar Pak Sawali

dikeluarkanlha uang gelondongan lima puluh ribu rupaiah dari kantong saku pak Maman. akupun segera dengan langkah kaki yang memang bukan lagi santai namun setengah lari menyusuri gerbong KRL Ekspress tersebut.

“Maaf Bu, Loket karcisnya di mana?” tanyaku pada Ibu-ibu yang sudah ready untuk menikmati perjalan.

“Tadi di situ. Di kanan kereta” jawabnya ( emang loket bisa pindah tempat? tadi di situ lha sekarang di mana?)

“mas-mas loketnya ada di ujung sebelah gerbong paling akhir” tiba-tiba loper koran di samping ibu itu menuturiku.

Segera ku keluarkan tubuh “gemukku” berlari menuju loket karcis. Waduh, setibanya di loket masih ada tiga antrian lagi yang harus aku tunggu. Ditambah lagi aku bingung loket nomor satu atau dua yang menjual tiket untuk kereta yang kami tumpangi. Aku juga belum tahu. Dasar emang kalau orang desa sulit untuk sekejap mata menyesuaikan diri dengan keadaan kota. Akhirnyapun giliranku datang.

“Pak tolong Pak tiga tiket untuk kereta yang akan berangkat itu pak”

“Kereta yang mana mas?”

“Itu lho Pak yang ada AC nya”

“Oooo Bogor Ekspress”

“Ya itulah pokoknya pak”

Ku bayarlah tiga tiket itu dengan lima puluh ribu dari Pak Maman. Karcir dan kembalian uangnyapun aku tenteng sambil berlari melompat batas kursi penunggu kereta dengan rel.

“Pritttttttt prittttttttt prittttttttt”

“Eeeeeeeeee, pur sepur ( kereta-dalam bahasaku disebut begitu ) tunggu aku wueee”

Akupun berlari tanpa memikirkan apakah yang akan terjadi jika aku menabrak orang yang berkerumun di samping rel pemberhentian. Namun kereta itu tetap saja tak mau berhenti mendengar teriakanku. berlari dan terus berlari dngan kecepatan yang mungkin aku sendiri tak mampu menghitung berapakah angkanya. Yangb lebih membuat aku sedih, semua pintu kereta tertutup bagiku untuk dapat menikmati perjalanan si hari terakhirku di Jakarta. Hingga akhirnya pintu paling belakang (khusus masinis) dibuka. Ku tambah kecepatan lariku untuk dapat menggapai urulan tangan sang masinis.

Pada batas kecepatanku inilah ku lompatkan badan “gemukku” msuk ke dalam gerbong dan meraih tangan sang masinis. Waduh, setelah kuinjakkan kakiku kembali di dalam gerbong, hatiku rasa PLONG. Akhirnya, selamatlah aku dari ketinggalan kereta karena tak tahu di mana loket penjualan karcis. Terima kasih pak masinis!!!

Keringatpun mulai bercucuran dari muka dan seluruh badanku. ku ingat kembali di gerbong mana dan nomor berapa tadi Pak Maman dan Pak Sawali berada. Tanpa memikirkan apakah orang-orang yang sedang enjoy di dalam gerbong di mana aku berjalan mengatakan aku katrok atau bahkan gila, aku kembali berlari menuju gerbong tempat kami pertama kali mauk kereta yang teryata ada di gerbong satu. Coba bayangkan, sudah berapa kilometer dan kalorikah yang sudah aku keliarkan untuk mendapatkan tiket perjalanan menuju perpustakaan nasional.

Sesampainya di gerbong depan ku serahkan karcis satu persatu dan kembalian uang pembeliannya. Ku rebahkan tubuhku yang malang ini dikursi penumpang yang kebetulan agak longgar.

“Memang tenaga yang lebih muda masih bisa diandalkan” kata Pak Maman

“Coba tadi kalau aku atau Pak Sawali yang cari, pasti sudah kena denda kita” tambahnya.

“Ya pak, yang penting sekarang kita sudah dapat tiketnya dan bisa tenang menikmati perjalanan” ujarku dengan nafas yag masih tersengal-sengal.

Kamipun menikmati perjalanan menuju stasiun terdekat dengan Jalan Matraman.

Semoga di lain waktu tiada lagi pengalaman seperti ini ku alami. Tapi yang paling terkesan adalah, dengan berlari setidaknya aku bisa mengurangi berat badan dan mendapatkan tiket kereta. Yang Paling penting di sini adalah, Lariku tidak sia-sia.

He he he