Kuseret mataku menuju kibar
janur kuning di ujung jalan
hening, diam tanpa aba-aba
detik dan kicau burung mengejekku
seiring lalu lalang lengking
biduan penyambut tamu
Kupaksa melangkah
dengan butir-butir air mata
ku tatap bening wajahmu
serasi busana pengantin
lengkap dia disampingmu
segala keluh dan retak
hati ini kucoba redam
aku lelaki tak mungkin merengek
meminta kau memutar kenangan
dulu tuk kembali
dalam pelukku
kini aku tegar
dari sisa-sisa tatapku
kutulis kata
kuhapus segala rasa
kucari lembar baru
kuhapus bayangmu
di sayap kupu-kupu
dengan jerit dari hati
kubiarkan penaku bicara
ku kenang kelam kisah ini
dan ku hanya diam
menatapmu di kursi pelaminan
30 September 2009 at 1:54 am
Salut sama sikap gentlemannya untuk tetap datang ke pernikahan mantan.
Coba diikhlaskan dan dilupakan saja bro hehehe
30 September 2009 at 5:08 pm
Terimakasih semangatnya mas dhodie
30 September 2009 at 5:22 pm
puisimu masih juga belum bergeser dari ranah cinta, farhan. ayo, dong semangat. jangan tenggelamkan dirimu ke dalam persoalan2 seperti itu, hehe …
1 Oktober 2009 at 12:22 pm
Begitulah Pak Sawali, namanya juga anak muda. masih selalu menggeluti nafsu dan pikirannya.. mulai sedikit demi sedikit saya berusaha menemukan jiwa yang baru..
2 Oktober 2009 at 10:00 am
salut bro…
tetap semangat
25 Oktober 2009 at 5:28 pm
dia adalah dia
aku dan “DIA” ……
karya yg bagus ungkapan hati yg bagus……
salut……………
lam kenal poo kuta bali..
6 November 2009 at 12:03 pm
wah puisi yg keren kak^
suatu yg jg tak prnah sy inginkan, tp tak ada kata ‘mungkin’ karena itu bisa saja trjadi..^