Kuseret mataku menuju kibar
janur kuning di ujung jalan
hening, diam tanpa aba-aba
detik dan kicau burung mengejekku
seiring lalu lalang lengking
biduan penyambut tamu

Kupaksa melangkah
dengan butir-butir air mata
ku tatap bening wajahmu
serasi busana pengantin
lengkap dia disampingmu

segala keluh dan retak
hati ini kucoba redam

aku lelaki tak mungkin merengek
meminta kau memutar kenangan
dulu tuk kembali
dalam pelukku

kini aku tegar
dari sisa-sisa tatapku

kutulis kata
kuhapus segala rasa
kucari lembar baru
kuhapus bayangmu
di sayap kupu-kupu

dengan jerit dari hati
kubiarkan penaku bicara
ku kenang kelam kisah ini
dan ku hanya diam
menatapmu di kursi pelaminan