Nang, duduk sini dipangku Ibu
ku ingin mengusap keringat di dahimu
sebelum ku kembali mengusap sepatu orang
demi masa depanmu

Nang, aku ajari kau cari mandi
agar kelak bisa memandikanku
saat ku tak bisa mengusap keringatmu lagi
saat ku harus tidur abadi

Nang, kau harus tau kenapa ku beri nama satria
bukan untuk sekedar bagus-bagusan
bukan untuk gampang dikenal orang
tapi jadikanlah dirimu seorang ksatria

yang bisa mencari arah bila ku mati
yang bisa hidup lebih layak
tak mengusap sepatu orang seperti aku

Nang, ditengah hingar bingar Ibu Kota
yang aku sendiri tak tahu kelaminnya
meskipun kita dianggap hina
janganlah sesekali kau tak trima
karena Tuhan sudah menggariskan hidup kita

Nang, satria anakku
lekaslah pakai seragammu
rajinlah menuntut ilmu
agar kelak kau bisa mengubah hidupmu
menebar kebaikan tak pandang bulu

** terinspirasi ketika saya melihat seorang ibu yang tinggal dikolong jembatan. Dengan tatapan penuh kasih sayang beliau memandikan anaknya yang masih balita.
dari sinilah kenapa saya gunakan nama tersebut dibelakang nama asli saya..